alam rangka persiapan menjadi gereja mandiri (7 Maret 2010), jemaat Gepembri Daan Mogot Baru pada tanggal 28-29 Desember 2009 yang lalu telah menyelenggarakan retreat pembinaan. Retreat yang mengambil lokasi di wisma "Lembur Pancawati" (arah Sukabumi) ini mengundang Pdt. Dr. Paulus Kurnia sebagai pembicara utama.
Pada ceramah yang dibawakan oleh Pdt. Paulus, beliau mengajarkan tentang keseimbangan dalam pelayanan:
A. Ciri-ciri kehidupan yang rawan ketidak-seimbangan
- Workaholic - working without boundaries / kerja tanpa batas
- Unfocused - managing lives without priority / mengatur hidup tanpa prioritas
- Undisciplined - living in chaos / hidup dalam ketidak-teraturan
B. Definisi keseimbangan (balance)
- Membuat suatu timbangan (to weigh) dengan memperbandingkan (antar dua argumen, keuntungan, pilihan, dsb)
- Membuat kecocokan (to match, offset) - mis: warna kuning itu seimbang dengan warna biru laut - serasi
- Memperbandingkan dua sisi agar sama atau simetris - mis: dalam pembukuan atau balance sheet (debet = kredit)
- Menjaga titik ekuilibrium (to keep in equilibrium)
- Bergerak mendekati - menjauhi (seperti dalam berdansa) - bersifat dialektis dan mempertahankan suatu ketegangan yang dinamis (seperti "tarik-ulur" dalam permainan layang-layang)
C. Menentukan prioritas: awal membangun keseimbangan
Asumsi: Membuat sebuah prioritas bisa berarti "memperkecil / mempersempit" sesuatu daripada "memperbesar", "membuang" daripada "menambahi".
Masalahnya bukan di time management, tetapi self management.
Maka pertanyaan-pertanyaan kuncinya meliputi antara lain:
- Apakah sesuatu yang diprioritaskan itu masih krusial dalam kurun waktu tertentu?
- Apakah yang saya butuhkan lebih banyak lagi di dalam hidup saya?
- Apakah kebutuhan / kegiatan saya bisa dikurangi?
- Bagaimana saya dapat membuat sesuatu dengan lebih sederhana?
D. Tips praktis membangun keseimbangan antara diri sendiri, pelayanan, keluarga, dan masyarakat
- Bicarakan peran-peran yang dijalankan oleh suami dan istri (termasuk orangtua-anak) di dalam urusan sehari-hari keluarga.
- Diskusikan khususnya antar suami dan istri: kegiatan-kegiatan gerejawi apa yang dapat disepakati bersama.
- Jika suami atau istri pergi melayani di gereja untuk jangka waktu yang lebih panjang dari biasanya - bicarakan hal itu dengan pasangannya.
- Jika pasangan belum percaya Tuhan, jangan memberi kesan kepada dia bahwa urusan gereja lebih penting dari urusan rumah tangga. Kesaksian hidup yang baik dapat memenangkan pasangan kita yang belum mengenal Kristus.
- Kelolalah pembagian waktu dengan sebaik-baiknya.
- Ambillah kesempatan untuk men-sharingkan betapa mulianya melayani Tuhan.
- Senantiasa berdoa agar keseimbangan antara pelayanan dan keluarga dapat dijaga dengan sebaik-baiknya.
Laporan berita dan foto: Pdt. Joni Chang.
Halaman foto:
• Retreat Pembinaan Mandiri
|