Logo
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku Matius 28:19

Natal dan Inisiatif Perdamaian
Oleh: Gideon S. Chandra

C appella Sistina (bahasa Inggris: Sistine Chapel) adalah kapel yang terletak di dalam lingkungan Istana Apostolik, kediaman resmi Paus di Vatikan. Kapel ini terkenal karena arsitektur dan dekorasinya yang dihiasi oleh seniman-seniman besar era Renaissance termasuk Michelangelo, Raphael, dan Sandro Botticelli. Atas perintah Paus Yulius II, Michelangelo melukis langit-langit kapel seluas 12.000 kaki persegi antara tahun 1508 hingga tahun 1512. Langit-langit kapel ini adalah mahakarya Michelangelo. Salah satu lukisan-lukisan yang terkenal itu adalah lukisan "Tangan Tuhan memberikan kehidupan kepada Adam" (The Hand of God giving life to Adam), yang menggambarkan Tuhan mengulurkan telunjuk-Nya yang hampir bersentuhan dengan telunjuk Adam (manusia) yang terkapar tak berdaya.

Lukisan Michelangelo itu menginspirasi saya untuk merenungkan ulang makna Natal. Setiap Natal kita menyanyikan: "Juru Selamat telah lahir bagi kita". Sepotong kalimat Itu adalah berita besar yang membawa sukacita dan harapan. Namun keistimewaan Natal baru dapat dimengerti setelah kita melihat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Pdt. Andar Ismail dalam bukunya yang berjudul Selamat Natal (33 renungan tentang Natal) mengatakan bahwa kita menjadi orang percaya bukan karena kelahiran Yesus, melainkan karena kematian dan kebangkitan-Nya. Kelahiran Yesus belum memberikan dampak apa-apa kepada iman kita. Dampak itu baru muncul dari hidup dan pengajaran-Nya. Sebab itu Natal tidak bisa berdiri sendiri terlepas dari Paskah. Kelahiran Yesus disusul dengan masa dewasa-Nya di mana Ia mengajar, sebab kita percaya bukan kepada seorang bayi melainkan kepada seorang Rabi yang mengajarkan dan meneladankan sebuah gaya hidup yang unik. Untunglah kelahiran Yesus disusul dengan kematian-Nya di salib, sebab kita diselamatkan bukan oleh seorang bayi melainkan oleh Juruselamat yang memberi diri-Nya sendiri. Untunglah kelahiran Yesus disusul dengan kebangkitan dan kenaikan-Nya, sebab kita berdoa bukan kepada bayi Yesus melainkan kepada Tuhan Yesus yang duduk di sebelah kanan Allah.

Natal adalah inisiatif Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya (2 Korintus 5:18). Perdamaian ini bukan diwujudkan oleh manusia dengan meniadakan permusuhannya dengan Allah. Tetapi perdamaian ini dilaksanakan oleh Allah, dengan perantaraan Kristus Allah sudah menghilangkan murka-Nya yang memisahkan diri-Nya dari manusia, yaitu murka Allah atas dosa manusia.

Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, manusia perlu pertolongan, yaitu keselamatan. Manusia dalam lingkaran setan, pada posisi dan kondisi berbahaya dan tak berdaya. Kesalahan manusia telah menyebabkan manusia tidak layak menerima bantuan yang dapat melepaskannya dari keadaan seperti itu. Tidak ada kekuatan manusia yang mampu memecahkan masalah dan keluar dari lingkaran itu. Demikian juga banyak usaha yang sia-sia untuk memperbaiki keadaan, percerahan intelektual terhadap ketidaktahuan, pembaharuan moral, perbaikan masyarakat dengan menggunakan kehebatan teknologi canggih, strategi ekonomi dan politik, dan juga teknik-teknik keagamaan yang diciptakan manusia. Sejak awal, manusia sudah harus melihat, manusia tidak dapat mengupayakan keselamatan bagi dirinya. Sebab dosanya mengakar dan manusia hanya berpusat pada dirinya sendiri. Usaha manusia untuk menyelamatkan diri sendiri merupakan perlawanan terhadap Allah dan akan menerima hukuman-Nya.

Allah sendiri mengambil prakasa jika manusia harus diselamatkan. Allah dalam kasih yang kudus berinisiatif memikirkan dan melaksanakan karya penyelamatan. Poros keselamatan itu adalah salib Kristus (Roma 1:16, 1 Korintus 1:18). Dalam kematian Kristuslah Allah melaksanakan tindakan penyelamatan bagi manusia. Adalah Allah sendiri, dalam kasih-Nya yang kudus, yang menyediakan keselamatan. Karya Allah itu menyatakan keagungan, misteri, kekuasaan, dan belas kasihan Allah. Dosa yang merupakan penghinaan terhadap kekudusan Allah ditiadakan dalam Kristus.

Perdamaian dengan Allah telah digenapkan oleh Kristus, yang telah membuat pendamaian itu melalui salib-Nya dan penebusan bagi manusia yang terasing dari penciptanya. Pembebasan itu diumumkan di pengadilan, karena Allah dalam anak-Nya memikul hukuman yang seharusnya ditanggung oleh manusia, dengan menyamakan diri-Nya sendiri dengan dosa manusia; kehormatan Allah dipuaskan oleh kesempurnaan penyerahan Kristus dalam ketaatan; Kristus mempersatukan kemanusiaan dalam diri-Nya sendiri, dan menyerahkan itu sebagai korban-Nya kepada Bapak. Kristus adalah pemenang mutlak dalam kematian-Nya. Dengan harga yang tak terhingga, Allah telah menghilangkan murka-Nya, karena Anak tunggal yang dikasih-Nya sudah memikul-Nya di salib. Perdamaian yang tak ternilai itu, sekarang dengan cuma-cuma ditawarkan kepada kita.

Sebab itu Natal baru mempunyai arti kalau kita melihat seluruh hidup Yesus. Kita baru bisa memahami kedalaman arti Natal kalau kita memahami karya Yesus sepanjang hidup-Nya yang mencapai klimaksnya ketika ia dibangkitkan Allah dari kematian. Tanpa karya hidup Yesus, maka peristiwa inkarnasi di Bethlehem tidak ada artinya.

Perdamaian Allah dengan kita adalah inisiatif Allah, maka Natal adalah Allah telah mengulurkan tangan dan menyentuh tangan kita, mengajak kita berjabat tangan.

Kepustakaan:
Dr. Andar Ismail, Selamat Natal: 33 Renungan tentang Natal
M. Green, The Meaning of Salvation
J. Denney, The Second Epistle to the Corinthians

Email © 1999-2010 Sinode Gepembri - Departemen Literatur Tanggal revisi: 13 Desember 2009