Logo
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku Matius 28:19

Bilur-Bilur-Nya Menyembuhkan
Oleh: GI. Mathilda Batlayar

D alam rangka memperingati dan merenungkan kesengsaraan dan kematian Tuhan Yesus pada 2000-an tahun yang lalu, hari Jumat tanggal 10 April jemaat Gepembri Kemurnian menyelenggarakan dua acara yang dilakukan secara berurutan. Pertama adalah acara doa puasa. Acara ini dimulai pk 8.00-16.00. Pada hari itu semua jemaat bersama-sama berpuasa dan berdoa. Acara yang berlangsung selama 8 jam ini bertema "Bilur-Bilur-Nya Menyembuhkan", dan dibagi 5 sesi. Dua sesi pertama adalah ibadah, dan tiga sesi berikutnya adalah kesaksian, doa kelompok, dan sesi tantangan. Kedua adalah acara ibadah Jumat Agung disertai perjamuan kudus, yang dimulai pada pk 18.00. Kedua acara ini dihadiri oleh jemaat Kemurnian dan jemaat dari pos PI Reni Jaya, Dadap, Bekasi, Daan Mogot Baru dan PRK Pelita.

Sesi 1: Bilur-Bilur-Nya Menyembuhkan
Pada dua sesi pertama firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. DR. Nus Reimas, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) dan Direktur Nasional Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI). Dalam khotbahnya yang didasari di dalam surat 1 Petrus 2:21-25 beliau menguraikan sebagai berikut:

Surat Petrus berbicara tentang kasih karunia Allah, dan di dalamnya mengandung 3 aspek:

  1. Kita menerima apa yang sebenarnya tidak layak kita terima.
  2. Surprise, maksudnya mengapa saya yang menerima, bukan orang lain.
  3. Joyful, mengungkapkan sukacita karena menerima anugerah Allah dalam hidup.

Petrus pernah menolak menderita bersama Kristus, karena itu ia menyangkal Yesus tiga kali dan sempat kembali ke pekerjaannya sebagai nelayan. Namun setelah Yesus menanggung derita sengsara, Petrus kembali melayani-Nya dan menulis surat Petrus. Sesuai 1 Petrus 2:21-25, Petrus berpandangan bahwa:
  1. Kristus telah menjadi teladan bagi kita melalui hidup-Nya (ayat 21-23)
    Teladan yang bagaimana?
    • Ia tidak berdosa tetapi dihukum.
    • Ia tidak menipu, tidak ada kebohongan apapun di dalam mulut-Nya.
    • Ia dicaci tetapi tidak membalas.
    • Ia menderita tetapi tidak mengancam bahkan Ia berdoa: "Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

  2. Kristus mati menggantikan kita (Roma 6:23-24)
    Yesus tidak mati sebagai martir, tetapi Ia mati sebagai pribadi yang menyerahkan diri-Nya secara sadar untuk menebus dosa manusia. Di Getsemani Ia tahu pergumulan yang akan dihadapi namun Ia berkata: "Biarlah kehendak Bapa yang terjadi." Kematian Yesus sudah ditunjukkan Allah sejak manusia jatuh dalam dosa di taman Eden. Jadi kematian-Nya bukanlah hal yang baru.

    Di dalam Perjanjian Lama, penghapusan dosa diperoleh melalui korban persembahan, berupa darah binatang (darah domba). Tujuannya agar manusia diampuni dosanya. Yesaya 53:5-7 merupakan gambaran peristiwa kematian Yesus. Segala penderitaan ditimpakan kepada Yesus, supaya oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh secara fisik dan rohani. Saat kita mengikut Yesus, Ia tidak pernah salah memimpin hidup kita dan pertolongan-Nya selalu tepat pada waktunya.

  3. Kristus menjadi gembala yang memperhatikan dan memelihara kehidupan kita (ayat 25)
    Yesus adalah gembala yang baik. Ia mencari yang tersesat, menyerahkan nyawa-Nya, dan pemeliharaan-Nya kepada kita sangat terbukti. Yesus sebagai Gembala yang baik, Ia memperhatikan dan tak pernah meninggalkan kita.

Aplikasi: Mungkin banyak penderitaan yang kita hadapi, tetapi kita harus ingat bahwa oleh bilur-bilurnya kita telah sembuh. Karena itu kita mau menyerahkan hidup kita kepada Gembala Agung yang akan memimpin kehidupan kita.

Sesi 2: Menghapus dosa manusia - 1 Petrus 2:24

Kematian Yesus di kayu salib memberi 3 makna:
  1. Ia mati supaya kita hidup melalui Dia.
    Ia sendiri telah memikul dosa seluruh manusia di atas kayu salib. Yesus mati, nama tiap orang tercantum di atas kayu salib karena Yesus mengasihi kita dan Ia mati menggantikan kita. Ia tidak melihat segala cacat kita, tidak memandang kekurangan kita. Kasih Allah sangat luar biasa.

    1 Yohanes 4:9-10 mencatat bahwa kasih Allah telah dinyatakan di tengah-tengah kita. Allah lebih dahulu mengasihi kita dan mengutus anak-Nya untuk mati bagi kita. Ia mati supaya kita hidup melalui Dia.

  2. Ia mati supaya kita hidup dalam kebenaran.
    Yesus mati dan kita memperoleh keselamatan. Hidup kita telah ditebus oleh darah-Nya, karena itu kita harus hidup berbeda dengan orang yang belum ditebus, hidup berbeda dengan dunia. Kita harus hidup di dalam kebenaran yang berdasarkan firman Tuhan. Hal ini memerlukan suatu komitmen pribadi yaitu hidup di dalam firman Tuhan dengan bersaat teduh setiap hari, hidup di dalam doa supaya Allah dimuliakan dan orang lain diberkati, dan kita menikmati berkat Allah. Dalam segala aspek hidup, kita harus hidup dalam kebenaran firman Tuhan.

    2 Korintus 15:14-15 mencatat bahwa tiap orang harus hidup untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan. Kita tidak hidup untuk diri kita. Gereja harus hidup untuk dunia. Gereja harus keluar untuk menjadi berkat bagi dunia. Yesus hidup untuk orang lain, karena itu kita yang sudah diselamatkan harus hidup bagi orang lain.

    Di dalam Filipi 2:10 Paulus menjelaskan bahwa setiap orang yang telah diselamatkan harus menaruh pikiran dan perasaan seperti Kristus Yesus. Yesus taat bahkan sampai mati di kayu salib, karena itu kita harus hidup bagi Allah di dalam Kristus Yesus.

  3. Ia mati supaya kita hidup dengan Dia.
    Yesus dicambuk, disiksa dan disalibkan, itu merupakan lambang penderitaan dan hina. Ia tidak berdosa, tetapi dijadikan dosa.

    Di dalam 1 Tesalonika 5:9-10 kita harus bersukacita, karena kita ditetapkan untuk menerima keselamatan Yesus Kristus. Ia menyelamatkan, menyembuhkan dan mencukupkan segala kehidupan kita dan kita hidup bersama Dia. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Pertolongan Tuhan selalu tepat waktu, ini terbukti bahwa Ia hidup bersama kita. Jika kita hidup bersama Dia, maka Ia mengendalikan hidup kita. Kita tidak hanya menikmati kesembuhan, keselamatan dan pemeliharaan Allah, tetapi juga akan selalu menikmati berkat Tuhan karena Ia mengendalikan hidup kita. Kita hidup di dalam persekutuan dengan Dia maka Dia tahu segala kesusahan dan pergumulan kita, karena Ia adalah Allah yang mahatahu, Allah yang mahakuasa dan Allah yang mahahadir, dan tidak ada yang mustahil di dalam Dia.

Aplikasi: Kita harus membuat tekad hidup dengan Dia, membiarkan Dia menuntun tangan kita. Allah mempunyai rencana khusus bagi orang yang percaya pada-Nya. Namun kita sering berjalan dengan kemauan kita sendiri. Kita harus tetap berjalan dengan Tuhan, kita tidak boleh membuat jalan sendiri. Apapun konsekuensinya tetaplah berjalan dengan Dia. Kita harus tetap hidup untuk Dia. Kita harus hidup di dalam kebenaran-Nya dan kita harus hidup untuk kemuliaan-Nya.

Email © 1999-2010 Sinode Gepembri - Departemen Literatur Tanggal revisi: 19 April 2009