![]() | |||
|
Oleh: Gideon S. Chandra
atu keluarga entah kenapa tiba-tiba ingin sekali mengadakan pesta. Untuk itu mereka perlu suatu alasan. Kebetulan Desember adalah bulan kelahiran papi yang lanjut usia. Pesta untuk merayakan ultah papi adalah alasan yang paling tepat.Maka kartu undangan pun dicetak, dengan isi: "Untuk membalas cinta-kasih papi kepada kami, maka dengan ini kami mengundang Bapak / Ibu untuk menghadiri pesta ulang tahun ke-75 ayah kami yang tercinta" (sebenarnya belum genap 75 tahun tapi dibulatkan sajalah). Dan tidak ketinggalan ditambahkan catatan: "Tidak mengurangi rasa terima kasih kami bila ucapan selamat anda berupa bunga yang disertai uang (minimum 200 ribu), dan jangan sekali-kali berupa kado apalagi cuma doa restu." Kalimat terakhir itu perlu ditegaskan kerena banyak orang suka pura-pura bodoh. Keluarga ini cukup terpandang, terbukti dengan banyaknya tamu yang hadir. Halaman rumah sesak dengan karangan bunga, dan uang yang terkumpul melebihi modal pesta. Makanan berlimpah-limpah, acara bagus, dengan MC kondang, penyanyi-penyanyi top, dan grup musik heavy metal yang energik, menambah semangat bagi yang turun disko dengan gaya sesuka hati. Pokok pesta malam itu sukses, semua orang puas. Ketika pesta usai, dan para tamu menyalami tuan dan nyonya rumah untuk pamit pulang, mereka semua berkata, "Terima kasih banyak. Pesta malam ini sangat menyenangkan." Tak ada yang tidak. Tapi ada seorang iseng bertanya, "Ngomong-ngomong, yang mana sih yang ulang tahun, kok tidak kelihatan?" Tuan rumah terperangah. Ya ampun, mereka lupa mohon papi turun dari kamar atas. Tapi terus terang pesta malam ini tidak cocok untuk papi yang uzur, tamu-tamu yang datang tidak satupun yang dikenal papi, dan mereka akan terasa terganggu, tidak bebas bila orang tua hadir di pesta. Lagi pula papi berpenyakit gula, tekanan darah tinggi dll, semua makanan di pesta pantang baginya. Demi kesehatan, papi lebih baik tinggal di kamar dengan acara TV kesayangannya. Sampai di sini tuan rumah sedikit terhibur. Cerita di atas mungkin tidak pernah terjadi, tapi itu adalah gambaran perayaan Natal yang sering terjadi. Tidak jarang perayaan Natal tanpa penghayatan makna Natal itu sendiri. Merayakan Natal karena hanya ingin pesta, suka rame-rame, senang tampil, mau pamer, mau .... Dan Natal hanyalah embelan, masa bodoh dengan apa maunya Tuhan, kehadiran-Nya diabaikan saja. Ya, ampun. Kalau begitu apakah kita harus sediakan bangku untuk Yesus? Kue tar dengan lilin di atasnya, rame-rame nyanyi lagu "Happy Birthday to You" sambil tepuk tangan riuh, lalu berdoa mohon Yesus meniup lilinnya. Apakah begitu? Tentu tidak! Lalu bagaimana? Pulang dari perayaan Natal di gereja, muncul pertanyaan apa arti Natal bagi saya. Sambil duduk di sofa, saya memejamkan mata menikmati lagu-lagu Natal dari Vienna Boys Choir yang diiringi oleh orkestra yang rapi dan agung. Dalam hanyutan musik yang sungguh indah itu, rangkaian renungan Natal terulang kembali dari artikel yang pernah saya baca, dari khotbah yang pernah saya dengar. Di balik semua sukacita perayaan Natal ada suatu pengorbanan besar yang dilakukan Allah untuk manusia. Natal adalah jalan dipilih oleh Allah untuk menyelamatkan manusia. Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya. Allah adalah yang mengambil inisiatif dan yang menjadi tujuan pendamaian. Pendamaian di sini bukanlah yang di wujudkan oleh manusia dengan menghilangkan permusuhannya dengan Allah. Pendamaian adalah sesuatu yang dilakukan oleh Allah, yaitu ketika Ia dengan perantaraan kematian Yesus sudah membuang tiap hal yang dari diri-Nya, mengasingkan Dia dari manusia. Rintangan yang harus dihilangkan oleh Allah adalah murka-Nya atas segala dosa manusia. Dengan harga yang tak terhingga Allah telah menyisihkan murka-Nya, karena Anak Tunggal yang dikasihi-Nya sudah memikulnya di salib. Damai yang tak ternilai, sekarang dengan cuma-cuma ditawarkan kepada manusia. Dalam perayaan Natal, kita memuji dan berusaha meninggikan Allah, Tetapi sesungguhnya melalui peristiwa Natal kita berhadapan dengan Allah yang merendahkan diri, berkorban diri mencapai manusia, yang karena kasih-Nya menjadi manusia. Di dalam kemahakuasaan-Nya, Allah bisa saja memilih jalan yang lain, jalan yang lebih terhormat dan lebih bermartabat. Tentu. Tapi Ia tidak. Ia memilih jalan yang satu ini. Dan di jalan ini kita berjumpa dengan makna Natal yang sejati dan abadi. Yaitu: betapa berharganya manusia di mata Allah. Sebenarnya siapakah kita ini sehingga begitu berharga di mata Allah? Setiap manusia berharga di mata Allah, tapi pelecehan martabat sesama, mengorbankan hak-hak asasi sesama demi kepentingan diri sendiri, masih juga kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada salahnya dengan perayaan Natal yang kita adakan dari tahun ke tahun, dan oke-oke saja dengan atraksi yang riang gembira. Namun di balik perayaan Natal yang menguras dana, waktu dan tenaga itu apakah membuat kita lebih menghayati makna Natal sehingga lebih dekat kepada Allah? Atau sebaliknya kita kehilangan damai dan bersumpah tidak akan ke gereja lagi hanya gara-gara masalah sepele, rebutan tempat latihan atau acara siapa yang harus tampil dulu misalnya. Mungkin itu yang perlu kita pikirkan serius. Bila Yesus hadir di hati kita semua, Ia pun akan hadir di perayaan Natal kita. Artikel ini merupakan publikasi ulang, dikutip dari Majalah Nafiri No. 94 edisi Des 1994. Majalah Nafiri diterbitkan oleh Pelayanan Literatur Gepembri Kemurnian. | |||