![]() | |||
|
Oleh: GI. Andreas Himawan
enjelang Natal tahun ini, secara sederhana saya bertanya kepada beberapa anak Sekolah Minggu Gepembri Kemurnian dan beberapa pelajar SMP yang mengikuti persekutuan di Sekolah Pelita mengenai Natal. Ini jelas bukan survei, sehingga tidak bisa dipakai untuk membuktikan apa-apa. Tetapi cukup menarik mengamati jawaban-jawaban mereka. Dan hal itu dapat menjadi semacam refleksi pula bagi kita: bagaimana kita menyambut Natal?Apa arti Natal bagimu? Ini merupakan pertanyaan pertama yang saya ajukan. Umumnya mereka menjawab: hari kelahiran Tuhan Yesus. Menariknya ada beberapa pelajar SMP menambahkan dengan satu-dua kalimat "rohani." Seorang di antaranya menuliskan, Natal adalah hari kelahiran Tuhan Yesus yang harus dikenang, karena Ia yang adalah Raja dari segala raja rela dilahirkan di kandang domba yang hina. Untuk membubuhkan kalimat seperti ini jelas membutuhkan lebih dari sekedar mengerti bentuk lahiriah Natal. Kalau tak salah mengira, ini membutuhkan suatu refleksi - walaupun tidak terlepas kemungkinan: suatu hafalan. Namun ini tetap masih jauh lebih baik dari jawaban yang menyebutkan bahwa Natal adalah "hari yang sangat saya senangi," "hari yang paling gembira," dan jawaban lain yang senada. Tetapi ini barangkali suatu image yang telah terpateri dalam: Natal adalah gembira. Jingle bells, Joy to the world. Jarang, memang, Natal dijadikan kesempatan untuk merenung dan berefleksi. Natal yang bising dan penuh carut-marut, sesuai dengan warnanya yang merah hijau, memang cocok untuk happy dan -kalau boleh- sedikit ajojing. Pertanyaan kedua yang saya lontarkan: Kalau kamu hanya bisa melakukan satu hal saja dalam menyambut Natal tahun ini, apa yang akan kamu lakukan? Barangkali ini pertanyaan yang agak sulit. Perlu mengira-ngira dulu, membuat daftar prioritas, mempertimbangkan kepentingan dan tingkat mendesaknya, baru dapat menjawab dengan lebih bertanggungjawab. Anak-anak SD dan SMP tentu sulit diharapkan memberi jawaban demikian. Maka jawabannya pun hampir selaras: menyanyi dengan gembira, merayakan Natal di gereja bersama teman-teman, pergi jalan-jalan, mengikuti pesta dan perayaan Natal di gereja. Ada yang secara sederhana menjawab: saya akan membagikan kartu Natal kepada semua temanku. Atau: kalau bisa membantu perayaan Natal. Tetapi tentu saja ada pula terselip jawaban yang tidak terlalu klise. Jawaban yang barangkali telah menjadi semacam doa bagi mereka. Misalnya, "Saya akan berusaha menghibur semua orang agar semua bergembira di hari Natal supaya tidak ada yang bersedih hati." "Pada hari menjelang Natal, saya dan keluarga berdoa, dan pergi merayakan di gereja." Saya katakan ini semacam doa, karena ada benang merah antara jawaban mereka ini dengan jawaban mereka pada pertanyaan ketiga. Pertanyaan ketiga: Jika dalam Natal ini kamu hanya boleh meminta satu hal, dan satu hal itu pasti dikabulkan untukmu, apakah yang kamu anggap paling penting yang akan kamu minta? Nah, pelajar SMP yang mengatakan akan menghibur semua orang (pada jawaban kedua), mengajukan permintaan yang menarik: "Saya akan meminta agar tidak ada penderitaan lagi di dunia ini supaya yang miskin menjadi kaya, dan lain sebagainya, agar semuanya hidup dalam ketenteraman dan damai." Bukankah ini suatu sikap sosial yang sangat lumayan dari seorang pelajar SMP? Demikian pula benang merah dari pelajar SMP yang pada pertanyaan kedua mengatakan akan berdoa dengan keluarganya. Pada pertanyaan ketiga, dia meminta "saya dan keluarga diberi kekuatan dan kekuasaan dari Allah dalam dunia." Permintaan mereka jelas mencerminkan sikap yang mempunyai pandangan ke luar - kepada keluarganya, kepada masyarakatnya yang masih mengalami banyak kemiskinan, kesengsaraan dan perang. Rekan-rekan sebaya mereka umumnya mengajukan permintaan yang mirip: saya minta sepeda, karena sepeda itu untuk bepergian, jadi nggak repot-repot lagi jalan kaki. Saya minta alat-alat tulis, karena itu yang sangat saya butuhkan. Saya minta tas. Saya minta naik kelas. Saya minta hadiah. Saya minta kesehatan supaya saya sehat dan jauh dari segala penyakit. Tetapi ada pula yang minta sebuah bingkisan dari orang tuanya. Apakah ini cerminan dari kerinduan hati untuk diperhatikan dan disayangi oleh papa-mamanya? Ada seorang pelajar SMP lain yang dengan polos mengungkapkan mimpinya: Saya mau ikut Santa Claus keliling dunia membagikan hadiah. Entah apa yang ada di dalam benak adik kita ini. Barangkali tertarik pada kereta kencana kakek Sinter, atau memang mempunyai suatu kerinduan menyebarkan hadiah bagi rekan-rekannya yang ada di seluruh dunia. Alangkah baiknya bila memang ada seorang kakek baik hati demikian, yang setiap saat (tidak mesti pada hari Natal) mengelilingi dunia untuk menengok dan membantu anak-anak di Bosnia, di Vietnam, di Kamboja, di India, di Afrika - anak-anak yang tidak mempunyai kaos kaki untuk digantung dan tidak punya rumah untuk bisa dimasuki cerobongnya. Anak-anak senantiasa mengungkapkan apa yang terlintas dibenaknya. Karena itu, seringkali ungkapan mereka begitu polos dan jujur. Kalau mereka merasa yang terpenting adalah tas sekolah, maka mereka meminta tas sekolah. Kalau mereka telah capek jalan kaki, mereka mengharapkan sepeda. Entah bagaimana dengan kita yang telah dewasa. Barangkali yang selalu kita harapkan, dan karena itu kita anggap terpenting, adalah juga keperluan-keperluan kita belaka - yang ujung-ujungnya dapat menjerumuskan kita kepada pemikiran egoistik: Natal adalah kesempatan memperoleh hadiah - tentu bukan tas yang kita inginkan. Mungkin sesuatu yang lebih mentereng, sesuatu yang lebih keren, sesuatu yang malu-malu kita ungkapkan, sesuatu yang tidak punya nilai kepolosan dan kejujuran lagi. Natal tidak sedemikian sering lagi dipahami dari sudut memberi, melayani, dan berkorban. Natal semestinya menumbuhkan semacam solidaritas dengan mereka yang menderita, miskin, dan yang terdepak dari perlombaan kehidupan. Tetapi karena Natal telah terlilit oleh budaya konsumtivisme, maka Natal dirayakan menjadi semacam kontes busana yang narsistik dan egoistik. Entah kapan bakal timbul suatu doa Natal yang universal: kami meminta agar tidak ada penderitaan lagi di dunia ini. Artikel ini merupakan publikasi ulang, dikutip dari Majalah Nafiri No. 94 edisi Des 1994. Majalah Nafiri diterbitkan oleh Pelayanan Literatur Gepembri Kemurnian. | |||