Logo
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku Matius 28:19

Terima Kasih Tuhan, Abdi Telah Sembuh!
Oleh: Kwee Fang Tjie

P ada tanggal 31 Agustus 2008 pukul 6 sore, saya mendapatkan telepon dari anak saya, Ike yang mengabarkan kondisi cucu saya Abdi yang saat itu berusia 2 bulan. Abdi seperti sedang kejang, matanya mendelik ke atas dan tangannya kaku. Saat itu saya langsung menyuruh Ike untuk membawa Abdi ke rumah sakit, karena hari itu hari Minggu dan tidak ada dokter maka Abdi masuk ke UGD di RS Siloam di Kebun Jeruk. Ketika saya dan keluarga datang, Abdi sudah diinfus dan diberi oksigen. Hati kami terasa sedih sekali melihat anak yang masih begitu kecil terbaring sakit tidak berdaya. Badannya panas tinggi namun tangan dan kakinya dingin.

Kondisi Abdi ketika di RS di Jakarta

Keesokan harinya dokter datang memeriksa Abdi, panasnya sudah turun, tes darah dan EKG yang dilakukan pun hasilnya baik. Dokter berkata kalau keadaan tetap stabil maka besok Selasa sudah boleh pulang. Namun malam itu panasnya naik lagi, Abdi mulai terlihat membengkak dan kaki serta tangannya pucat dan dingin. Abdi diberikan obat penurun panas, namun panasnya naik turun sepanjang malam.

Hari Selasa dokter kembali datang, dan mengatakan ada kecurigaan bahwa Abdi terkena penyakit Kawasaki. Penyakit Kawasaki adalah penyakit yang menyerang anak-anak yang mengganggu fungsi kerja jantung. Tes jantung pun dilakukan namun hasilnya baik sehingga kemungkinan penyakit Kawasaki dieliminasi.

Pada hari Rabu keadaan Abdi semakin memburuk, ubun-ubun di kepalanya mulai melunak dan terlihat bengkak. Bila diangkat dari tempat tidurnya, Abdi menangis seperti kesakitan. Lidahnya pun seperti kaku dan mulai susah untuk minum susu. Kami menangis bersama ketika melihat Abdi dengan susah payah berusaha untuk minum susu namun tidak juga berhasil. Kami segera berlutut dan berdoa bersama-sama memohon Tuhan mengasihani Abdi. Ketika kata Amin diucapkan, puji Tuhan Abdi pun bisa minum susu! Saat itu saya benar-benar merasakan kuasa dari doa dan pimpinan Tuhan.

Malam itu dokter memperkirakan Abdi terkena Meningitis, namun hal tersebut belum dapat dipastikan sebelum dilakukan tes pada cairan sumsum. Meningitis adalah penyakit radang selaput otak, penyakit ini sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian atau hal-hal lain seperti kehilangan fungsi penglihatan, pendengaran dan cacat mental. Hati kami hancur mendengar hal tersebut. Air mata terus mengalir, rasa khawatir dan sedih kami rasakan dengan luar biasa. Dokter di Jakarta pun tidak dapat memberikan diagnosa yang pasti mengenai keadaan Abdi, akhirnya kami mulai berpikir untuk membawanya ke Singapore.

Malam itu saya berdoa dan menangis semalaman sendiri. Pada awalnya saya berdoa agar Tuhan menjamah dan menyembuhkan Abdi. Namun pada akhirnya saya sadar dan berdoa minta ampun pada Tuhan atas segala kesalahan yang telah kami lakukan, kami terlena dengan kehidupan yang ada dan menjadi kurang bersyukur pada Tuhan atas apa yang kami miliki. Saya katakan bahwa saya berserah sepenuhnya kepada Tuhan yang Mahatahu, biarlah segala sesuatunya terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan saja. Esok harinya pun saya kehilangan suara karena menangis dan berteriak pada Tuhan semalaman.

Pada hari Kamis, kami mulai sibuk untuk mengurus keberangkatan Abdi ke Singapore. Satu hal yang menjadi masalah besar adalah Abdi kecil belum memiliki paspor. Kami mendapatkan kenalan yang bisa mengurus paspor Abdi dalam waktu 1 hari, namun orang tersebut mengatakan bahwa Abdi harus dibawa ke imigrasi untuk difoto. Hal ini sangat tidak mungkin mengingat kondisi Abdi dan keadaan imigrasi yang sangat ramai dan sumpek. Namun pimpinan Tuhan sungguh nyata, pukul 4 sore orang dari imigrasi datang dan mengambil foto Abdi dan mengatakan besok paspor sudah jadi sebelum makan siang. Berpegang dengan hal ini kami pun segera memesan tiket untuk hari Jumat sore. Segala ketidakpastian terus terjadi pada hari itu, Abdi harus dibawa ke Singapore dengan didampingi dokter. Kami pun segera mencari cara dan akhirnya menemukan sebuah perusahaan yang biasa mengurusi hal tersebut. Namun ketika semuanya sudah kami rencanakan dengan baik, bahwa Abdi akan dijemput dengan ambulans, dan di pesawat akan didampingi oleh dokter dan perawat, malam itu kira-kira pukul 9 orang perusahaan tersebut memberitahukan bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan karena masalah birokrasi dan dia mengatakan kami harus carter pesawat sendiri untuk membawa Abdi. Kami pun mulai bingung dan akhirnya Pak Budi (suami saya) berusaha untuk mengurus sendiri ke Garuda mengenai urusan ini dan puji Tuhan akhirnya rencana semula tetap dapat dilakukan namun tidak lagi menggunakan jasa perusahaan tersebut.

Pada hari Jumat pukul 10 pagi, paspor Abdi belum jadi dan sebentar lagi orang imigrasi akan sholat Jumat dan makan siang sehingga pengerjaan paspor baru akan dimulai pukul 1 siang, sampai pukul 2 paspor belum juga keluar. Kami berangkat dari rumah sakit menuju bandara dengan perasaan was-was. Sesampainya di bandara, kami mendapat kabar paspor Abdi sudah jadi dan sedang dibawa oleh supir menuju bandara. Namun hingga saat akan check-in, paspor juga belum sampai. Akhirnya pukul 4 sore, kurang dari satu jam sebelum pesawat berangkat, paspor Abdi datang. Kami pun segera berangkat dan setibanya di Singapore, Abdi dijemput dengan ambulans. Walaupun malam itu, Sabtu dan Minggu tidak ada dokter tapi pelayanan kesehatan yang diberikan di KK Hospital sangat baik, kekhawatiran kami pun berkurang. Ketika panasnya naik, Abdi tidak diberikan obat karena katanya obat penurun panas tidak boleh diberikan lebih dari 3 hari, Abdi dibaringkan di ranjang yang dingin berisi air.

Akhirnya ketika dokter datang memeriksa Abdi, cairan sumsum pun diambil dan Abdi positif terkena Meningitis. Dokter mengatakan bahwa Abdi harus menjalani perawatan selama 21 hari dan setiap harinya disuntikkan obat sehingga dipastikan bakteri Meningitis mati dan tidak akan kambuh lagi. Saat itu kondisi Abdi sudah jauh lebih baik dan tidak terlihat seperti anak yang sedang sakit, setiap orang yang melihatnya pasti tersenyum melihat Abdi yang begitu lucu. Saya pun ikut mendampingi selama pengobatan dilakukan, tidak lupa kami terus berdoa sambil menghitung hari sampai pengobatan selesai dilakukan. 1 hari sebelum pengobatan berakhir, Abdi genap berusia 3 bulan. 1 bulan anak ini mengalami sakit yang luar biasa namun pimpinan Tuhan tak pernah lepas sedikitpun dari anak ini dan keluarga kami. Akhirnya pengobatan pun selesai dan kami bersama-sama kembali ke Jakarta dengan hati penuh sukacita dan rasa syukur.

Abdi yang sudah sembuh

Saat ini Abdi berusia 4 bulan setengah, Abdi sudah senang ketawa dan berbicara. Mukanya yang bulat sangat lucu dan menggemaskan. Melalui Abdi kecil, kami akan selalu diingatkan oleh kebesaran Tuhan. Bagaimana Tuhan membukakan jalan bagi orang-orang yang percaya dan berserah kepada-Nya. Kuasa Tuhan nyata melalui kejadian ini. Tidak lupa saya dan seluruh anggota keluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para hamba Tuhan dan jemaat yang setia menjenguk dan mendoakan Abdi. Biarlah nama Tuhan dimuliakan sekarang dan sampai selama-lamanya!

Bp. Budi Arifandi, Ibu Kwee Fang Tjie, dan cucu tercinta Abdi

Ibu Kwee Fang Tjie adalah jemaat Gepembri Kemurnian.

Email © 1999-2010 Sinode Gepembri - Departemen Literatur Tanggal revisi: 9 November 2008